Rabu, 02 Januari 2013

Hukum Berteriak-teriak di Masjid

 

Hukum Berteriak-teriak di Masjid


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Masjid memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Ia adalah tempat ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah berupa shalat, membaca Al-Qur'an, zikir, dan semisalnya. Selayaknya setiap muslim menjaga kehormatannya, memakmurkannya dengan ibadah,  dan menjauhkannya dari hal-hal tidak layak. Salah satu tindakan yang selayaknya dijauhkan dari masjid adalah berteriak-teriak di dalamnya.
Para ulama berbeda pendapat dalam menghukumi pebuatan ini. Imam Malik melarangnya secara mutlak, baik dalam kegiatan pengajian atau selainnya. Sementara ulama yang lain memilahnya; yang memiliki tujuan untuk kebaikan agama (seperti menyampaikan ilmu, khutbah, berita dan selainnya) atau manfaat duniawi (seperti menaghih hutang dan selainnya) maka dibolehkan. Dan jika tidak memiliki faidah jelas di dalamnya maka dilarang.
Imam Al-Bukhari membuat bab dalam Shahihnya, Bab Raf'u al-Shaut fi al-Masjid (Bab tentang mengeraskan suara di masjid). Beliau menyebutkan dua hadits yang secara zahirnya menunjukkan pertentangan. Pertama, hadits Umar menunjukkan dilarangnya perbuatan itu.
Dari al-Saib bin Yazid, ia berkata; "Aku pernah berdiri di masjid lalu ada seseorang yang melempar krikil kepadaku. Maka aku melihat. Ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab. Kemudian ia berkata, 'Pergilah, bawa kedua orang itu.”
Aku pun datang kepadanya dengan membawa kedua orang itu. Ia (Umar) bertanya, “Siapa kamu berdua?” atau “Dari mana kamu berdua?” Keduanya menjawab, “Dari penduduk Tha’if.” Ia berkata,

 لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kalau kamu berdua berasal dari penduduk negeri ini, tentu aku mendera kamu berdua; kamu telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.” (HR. Bukhari)

Ancaman Umar yang akan mendera dua orang yang mengeraskan suaranya di masjid Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sekiranya keduanya bukan dari luar Madinah menunjukkan bahwa keduanya melakukan perbuatan yang menyalahi perbuatan yang sudah disepakati.
Kedua, hadits Ka'ab yang menunjukkan tidak ada larangan terhadap hal itu. Dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik, bahwa Ka'ab bin Malik mengabarkan kepadanya; ia pernah menagih hutang terhadap Ibnu Abi Hadrad di masjid pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Lalu suara keduanya meninggi sehingga terdengar oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang berada di rumahnya. Beliau keluar menemui keduanya sehingga tersingkap tirai kamarnya. Beliau memanggil Ka'ab dan berkata: "Wahai Ka'ab." Ka'ab menjawab, "Labbaika, Ya Rasulullah." Beliau megisyaratkan dengan tangannya, "bebaskan setengah dari hutang milikmu." Ia (Ka'ab) menjawab, "Aku telah melaksanakannya wahai Rasulullah." Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (kepada Ibnu Abi Hadrad), "Berdiri dan bayarlah hutang." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Muhallab berkata, "Kalaulah mengeraskan suara di dalam masjid itu tidak boleh, maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak akan membiarkan keduanya (saling bersuara keras) dan pasti beliau menjelaskan kepada keduanya." (Fathul Baari: I/647)

Al-Hafidz berkata, "Dari hadits ini terdapat isyarat bahwa larangan dalam hal yang tidak ada manfaat dan tidak dilarang jika ada kebutuhan kepadanya." Beliau menambahkan penjelasan, terdapat beberapa hadits yang melarang meninggikan suara di masjid, namun ia dhaif yang sebagiannya dikeluarkan oleh Ibnu Majah. (Fathul Baari I/656)

Larangan bersuara keras di masjid lebih ditekankan saat ada orang yang sedang mengerjakan shalat. Sampaipun atas siapa yang sedang membaca Al-Qur'an. Karena membaca Al-Qur'an dengan keras bisa mengganggu orang yang sedang bermunajat kepada Allah dalam shalat.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يُنَاجِيْهِ وَ لاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

"Sesungguhnya orang yang shalat sedang bermunajat kepada Tuhannya, maka hendaknya ia memperhatikan isi munajatnya dan janganlah satu sama lain mengeraskan mengeraskan bacaan Al Qur’annya.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah dan Aisyah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1951)

Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, saat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam beri'tikaf di masjid beliau mendengar para sahabatnya mengeraskan bacaan Al-Qur'an. Lalu beliau membuka kain penutup dan bersabda, "Ketauhilah, sesungguhnya setiap kalian bermunajat kepada Rabb-nya. Janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, jangan pula sebagian kalian meninggikan suara bacaan atas sebagian yang lain." (HR. Abu Dawud, al-Baihaqi, dan al-Hakim)

Jika demikian larangan meninggikan dan mengeraskan suara bacaan Al-Qur'an, maka terhadap suara selainnya lebih layak tidak dikeraskan agar tidak mengganggu orang yang sedang shalat. Wallahu Ta'aala A'lam. [Sumber voa-islam.com]

DOSA MENINGGALKAN SHALAT LEBIH BESAR DARI BERZINA



DOSA MENINGGALKAN SHALAT LEBIH BESAR DARI BERZINA

Bismillah

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa IA berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping Dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus …kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala IA berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itu pun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. Cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang IA menghardik,” Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”…teriak Nabi Musa sambil memalingkan Mata karena jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit Dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan IA tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina Dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.
“Betulkah Ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” “Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran. “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja Dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina. Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja Dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib Dan tidak perlu atas dirinya. Berarti IA seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur Dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat Dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya Dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dikutip dari buku 30 kisah teladan – KH . Abdurrahman Arroisy
Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi Dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian IA mengqadanya, maka IA akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 Hari, sedangkan satu Hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa Dan wanita pezina Dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi Kita Dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. (DZ)

SUMBER http://moeflich.wordpress.com/2011/11/15/ngeri-inilah-besarnya-dosa-orang-yang-meninggalkan-shalat/

KISAH ANAK DURHAKA KEPADA ORANG TUANNYA



 KISAH ANAK DURHAKA KEPADA ORANG TUANNYA

Bismillah 

Seorang anak berlaku kasar kepada ibunya. Dia tidak hanya suka teriak-teriak di wajahnya, akan tetapi suka mencaci dan memakinya. Ibunya yang telah tua, seringkali berdoa kepada Allah ta’ala agar Allah meringankan kekerasan dan kekejaman anaknya. Dia menjadikan ibunya sebagai pembantu yang membantu dan mengurusi segala kebutuhannya, sedangkan ibunya sendiri tidak membutuhkan pengurusan dan bantuannya. Betapa sering air matanya mengalir di kedua pipinya, berdoa kepada Allah ta’ala agar memperbaiki belahan hatinya dan memberikan hidayah kepada hatinya.

Pada suatu hari dia menemui ibunya dengan raut wajah kejahatan yang terlihat dari kedua matanya. Dia berteriak-teriak di wajah ibunya, “Apakah ibu belum menyiapkan makanan juga?” Dengan segera ibunya mempersiapkan dan menghidangkan makanan untuknya. Akan tetapi tatkala dia melihat makanan yang tidak dia suka, maka dia melemparnya ke tanah.
Dia marah dan berucap, “Sungguh, aku kena musibah dengan wanita yang sudah tua renta, aku tidak tahu, kapan aku bisa berlepas diri darinya.” Ibunya menangis seraya berkata, “Wahai anakku, takutlah kamu kepada Allah terhadapku. Tidakkah kamu takut kepada Allah? Tidakkah kamu takut akan murka dan kemarahanNya?” Karena mendengar kata-kata ibunya, maka kemarahannya pun memuncak, dia memegang baju ibunya dan mengangkatnya. Dia mengguncang-guncang ibunya dengan kuat seraya menghardik, “Dengar, aku tidak mau dinasihati. Bukan aku yang mesti dibilang harus bertakwa kepada Allah.”
Lalu dia melempar ibunya. Ibunya jatuh tersungkur. Tangisnya bercampur dengan tawa anaknya yang penuh dengan kepongahan seraya mengatakan, “Ibu pasti akan mendoakan kecelakaan bagiku. Ibu mengira Allah akan mengabulkannya.” Kemudian dia keluar rumah sambil mengolok-olok ibunya. Sementara sang ibu, dia berlinangan air mata kesedihan, menangis siang dan malam tiada henti.
Adapun anaknya, dia lalu menaiki mobilnya. Bergembira dan bersuka cita sambil mendengarkan musik. Dia kencangkan volume tapenya. Dia lupa akan apa yang telah dia perbuat terhadap ibunya yang malang. Dia meninggalkan ibunya dalam keadaan bersedih hati sendirian, hatinya menelan rasa sakit, mengalami kesedihan yang sangat mendalam.
Dia punya acara ke luar kota. Tatkala mobilnya melaju di jalan raya dengan kecepatan membabi buta, tiba-tiba ada seekor unta berada di tengah jalan. Dia terguncang dan kehilangan keseimbangan. Dia mencoba untuk menguasai keadaan, akan tetapi tidak ada jalan keluar dari takdir. Dalam kecelakaan itu, ada potongan besi mobil yang masuk ke dalam perutnya, akan tetapi dia tidak langsung tewas. Allah ta’ala menangguhkan kematiannya. Dia berpindah dari operasi satu ke operasi yang lain, hingga akhirnya terbaring di tempat tidur, tidak bisa bergerak sama sekali. (Aqibah Uquq al-Walidain, hal. 69-71.)

Sumber: Sungguh Merugi Siapa yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga, karya Ghalib bin Sulaiman bin Su’ud al-Harbi. Edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq Jakarta.
Artikel www.KisahMuslim.com

Jika Anak Bertanya Tentang Pacaran



Jika Anak Bertanya Tentang Pacaran

Bismillah

Jika Anak Bertanya Tentang Pacaran (Seseorang yang Mencintai Akan Menghormati)

Menurut kakak pacaran itu seperti apa?” tanya saya…

“sayang sama cowok ummi, abisnya dia baik, pintar dan bla…bla” balas anak saya..

“wah… kalau seperti itu, semua orang juga suka nak, pinter, sholeh, baik, ramah semua sifat mulia dan baik disukai oleh siapa saja” jawab saya…

“ih… ummi, tapi kalo ketemu dia kakak seperti deg degan gitu” balasanya…

“ehem…. sini sayang duduk dekat ummi, ummi mau kasih tau sesuatu. Kakak, yang kakak rasain itu wajar, suka dengan semua kebaikan yang ada pada seseorang, namun, kakak belum pernah tahu sisi buruk yang dimiliki seseorang kan?, misalnya eh rupanya dia suka telat kalo bangun pagi, suka gak rapi, dan sifat2 yang kakak gak suka lainnya melekat pada dia, kakak pasti jadi krg suka kan?” tanyaku…

“Ah… ummi payah” jawabnya…

“Gini kakak sayang, pacaran itu baru indah ketika kita telah menikah, karena Allah telah menjaga komitmen bersama, segala sifat baiknya secara otomatis kita terima, sifat buruknyapun akan kita sama2 usahakan agar tidak jd perapuh hubungan, karena pacaran dengan komitemen yang menyertakan Allah lah yang menenangkan

Dan, bila ada laki-laki yang benar-benar sayang dan cinta sama anak ummi karena Allah, maka ummi yakin laki-laki itu akan menempuh jalan yang Allah ridhai, yaitu menikah, pun bila belum siap, maka dia akan menghormati wanita yang dicintainya, dia tidak akan merayu, memegang tangan, mengajak berdua, karena dia tidak ingin kesucian hati orang yang dicintainya ternoda gitu lho sayang….”

“Jadi, kalo ada yang bilang suka sama kakak, trus pegang tangan, bukan laki-laki baik dong ummi?”

“Belum baik dan dia belum mencintai kamu karena Allah, mungkin sebatas kagum saja dan biasanya setan suka jadi orang ketiga lho… hiy… ummi sih amit-amit anak-anak ummi dekat sama setan….

Anakku, Allah sayang sama kita, dan karena sayang_Nyalah IA buat aturan sesempurna mungkin untuk menghindarkan kita dari celaka. Kakak juga liat diberita kan? hamil diluar nikah, aborsi… Nauzubillah…

Ummi rasa, anak ummi adalah anak yang cerdas, cukup tahu mana yang paling didahulukan pada umur yang sekarang…hehehe­he…eh…Kakak… kalau memang ada yang mau melamar anak ummi, kasih tau ummi dan ayah jauh-jauh hari ya. Ntar ayah sama ummi mau buat list pertanyaan yang pannnnjaaaaaaan­g….

Sampe ummi sama ayah yakin dia terbaik untuk melanjutkan estafet kami menjaga kakak… hehehehe…”

love you anakku

(sambil memeluk dan berurai air mata, karena tak terasa anakku telah beranjak remaja…)


Semoga bermanfaat

Kenapa anda tidak sholat ?

Kenapa anda tidak shalat ?

Bismillah

Sahabatku semua yang dirahmati Allah, Fitrah Manusia menginginkan hati yang tentram, tenang, bahagia. Tapi kita tidak berdaya. Ketika Allah berikan rasa benci, marah, kecewa, dendam dalam hati kita. Sedikitpun kita tidak akan mampu membuangnya sebesar apapun usaha kita kalau Allah tidak menolong kita. Mintalah pertolongan Allah agar semua rasa dendam, benci dan marah di hilangkan di dalam hati kita. Dan Pasrah kepada Allah. Dan merasa lelah apa yang kita rasakan.
Lalu apa yang bisa membuat hati kita tentram, tenang dan bahagia ?
Adakah yang tahu ?

Ia, jawabanya adalah SHOLAT…
Kenapa harus sholat ?


Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Amal yang pertama kali dihisab padahari kiamat dari seorang hamba adalah salatnya. Jika salatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya, jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia.” (HR Tirmizi dan yang lain dari Abu Hurairah. Ia berkata, “Hasan Gharib.”)


- Apakah penyakit anda lebih parah dari pada mereka sehingga anda tidak sholat..??









- Apakah tempat ini tidak memungkinkan anda utk sholat..??






- lihatlah betapa taat nya orang ini….!!






- Apakah panas yang menghalangi sholat..?? Atau dingin yang menghalangi wudhu’..??





- Apakah pekerjaan anda yang menghalangi anda sholat..??







Sahabatku yang baik hatinya..
Sholat adalah ibadah yang harus dilakukan oleh seluruh anggota tubuh, baik anggota material maupun non material, baik yang dilakukan oleh pikiran dan hati seperti niat, ketulusan, khusyu’, tunduk, perasaan senantiasa diawasi dan lainnya; baik yang dilakukan oleh lisan seperti membaca syahadat, tasbih, tahmid, takbir, alfatihah dan lainnya; dan baik yang dilakukan oleh anggota tubuh lainnya seperti berdiri, ruku, sujud, duduk dan lainnya. Artinya bahwa sholat menuntut semua anggota tubuh kita baik yang sifatnya material ataupun non material terlibat dalam irama sholat.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14] : 7)

Shalat 5 waktu merupakan kewajiban yang harus ditegakan oleh setiap muslim yang sudah akil baligh, baik laki-laki mupun perempuan, dalam keadaan sehat maupun sakit. Dasar kewajiban shalat ini adalah dalam Al-Qur’an dan Hadis.
Firman Allah SWT :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
wamaa umiruu illaa liya’buduu allaaha mukhlishiina lahu alddiina hunafaa-a wayuqiimuu alshshalaata wayu/tuu alzzakaata wadzaalika diinu alqayyimat
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah (mengabdi kepada)Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus1596, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah 98: 5)

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِ
wa-aqiimuu alshshalaata waaatuu alzzakaata wairka’uu ma’a alrraaki’iina

“Dan dirikanlah Shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah bersama orang-orang yang ruku.
عِينَ
(Qs. 2:43)
Dari ayat-ayat di atas sudah jelas yang dimaksud dengan menyembah adalah mengabdi hanya kepada Allah SWT. saja, dan shalat adalah suatu keharusan karena merupakan sarana untuk mengadakan pendekatan kepada-Nya, jika kita ingin selamat dunia-akhirat.


Dalam Islam, shalat menempati kedudukan yang amat penting sebagai salah satu dari rukun Islam yang lima, shalat merujpakan fondasi yang kukuh bagi tegaknya Islam. Didalam sebuah hadis Rasulullah S.A.W. bersabda:

“Shalat itu tiang Agama, maka barang siapa mendirikan shalat, berarti ia telah menegakan agama. Barang siapa meninggalkan shalat berarti ia telah meruntuhkan fondasi agama”

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ
innamaa tuu’aduuna lashaadiqun
” sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.
selain itu shalat juga mempunyai kedudukan yang sangat menentukan, yaitu menentukan diterima atau tidaknya amal manusia. Hal ini dinyatakan dalam sebuah hadis:
Artinya:
“Sesungguhnya amal manusia yang paling pertama kali dihisap (diperiksa) pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya diterima, maka diterima pula amalan yang lain. dan jika shalatnya ditolak, maka ditolakpula amalan yang lain” (H.R. Tabrani)
Shalat adalah tangga menuju kedekatan (Qurb) kepada Tuhan. Shalat adalah amanah yang dimasukan kedalam penjagaan manusia oleh Tuhan yang Maha Kuasa, suatu hubungan rahasia yang berlangsung antara penyembah dengan yang Disembah.
Shalat merupakan praktik lahir dan batin: Serangkaian latihan jasmani. Bahkan ada yang menyatakan sebagai yoga asanas, dan makanan ruhaniah yang paling kaya. Dalam pemikiran kaum sufi “lebih baik mati dari pada tidak shalat.

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
qul inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbi al’aalamiina

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S Al-An’aam 6 : 162)

لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
laa syariika lahu wabidzaalika umirtu wa-anaa awwalu almuslimiina

“Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S Al-An’aam 6: 163)

Dalam surah Al-Ma’un(107):4-7 Allah menegaskan:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
fawaylun lilmushalliina

[107:4] Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
alladziina hum ‘an shalaatihim saahuuna

[107:5] (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ
alladziina hum yuraauuna

[107:6] orang-orang yang berbuat riya1604,
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
wayamna’uuna almaa’uuna

“dan enggan (menolong dengan) barang berguna. “ Qs.107:4-7

Sahabatku yang baik hatinya,
Nabi Muhammad menjadikan shalat sebagai identitas bagi seorang muslim, ketika seorang muslim tidak mengerjakan kewajiban shalat, maka yang bersangkutan sama saja telah menanggalkan identitasnya. Sebaliknya semua juga telah sangat paham bahwa shalat mempunyai fungsi untuk membimbing seorang muslim untuk terhindar dari tindakan kejahatan dan perbuatan tercela. Dalam satu kesempatan nabi Muhammad SAW pernah menyatakan, “Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar”.
Karena itulah shalat menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam. Diibaratkan sebuah bangunan, ajaran Islam itu didirikan atas lima pilar yaitu;  “syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji”. Ketika salah satu pilar  hilang maka akan runtuhlah bangunan itu. Atau ketika shalat ditinggalkan maka akan runtuhlah Islam seseorang. Coba renungkan pernyataan Nabi Muhammad ini, “Shalat itu adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya maka ia telah menegakkan agama, sebaliknya barang siapa merobohkannya maka ia telah merobohkan agama”.
Hakekat shalat ialah menginat Allah SWT.; shalat merupakan bukti pengabdian kepada penciptanya. Shalat adalah media pendekatan diri kepada Allah SWT. yang paling efektif, karena pelaksanaannya merupakan bukti kongkrit penghambaan kepada-Nya. maka shalat merupakan pembeda antara prang muslim dengan orang kafir. Orang islam yang mengabaikan shalat mendapat ancaman dari Allah sebagai orang yang celaka atau sia-sia hidupnya. Atau orang yang melakukan shalat dan menganggap shalat itu tidak begitu penting baginya sehingga dalam shalat pikirannya kacau dan hatinya tidak mau tunduk kepada ke Besaran Allah. Swt.

Terus kenapa anda tidak sholat ?
“Yang membedakan anatara seorang muslim dan kafir adalah shalat”
Semoga bermanfaat..

Sumber http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/12/07/kenapa-anda-tidak-sholat/

   

 

 

Selasa, 01 Januari 2013

NENEK SI PEMUNGUT DAUN

Nenek si pemungut daun

 

 

Bismillah

Alkisah pada sebuah kota d Pulau Madura, tersebutlah seorang nenek yang kesehariannya bekerja sebagai
menjual bunga cempaka di sebuah pasar.

Seperti kebiasaan setiap harinya usai berjualan, sang nenek selalu menyempa kan diri mampir ke Masjid Agung yang terdapat di kota itu dengan berjalan kaki walau jaraknya cukup jauh.

Ia kemudian berwudhu, masuk ke Masjid, dan melakukan shalat dhuhur.

Setelah berdzikir dan berdoa sekedarnya, ia segera keluar dari Masjid dan membungkuk-bungkukkan badannya di halaman Masjid. Untuk apa? Si nenek dengan sabarnya memunguti serta mengumpulkan daun-daun yang berserakan di halaman Masjid tersebut.

Selembar demi lembaran daun dikaisnya. Tak satu lembar daunpun ia lewatkan.

Tentu saja agak lama sang nenek membersihkan halaman Masjid dengan cara seperti itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh panas menyengat, hingga keringat pun jadi membasahi sekujur tubuhnya.

Banyak jemaah Masjid yang jatuh iba kepadanya.
Sehingga suatu hari Ta'mir Masjid memutuskan untuk membersihkan sendiri dedaunan itu sebelum si nenek tersebut datang.

Pada suatu hari, seperti biasanya sang nenek datang dan langsung masuk Masjid.
Berwudhu' dan dilanjutkan Shalat. Usai shalat, ketika ia hendak melakukan kebiasaan rutinnya, betapa terkejutnya ia. Sebab tak ada satu lembarpun daun yang berserakan disana. Ia kembali lagi ke Masjid dan menangis dengan sesenggukan di hadapan jamaah. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah dibersihkan sebelum kedatangannya.

Para jemaah mencoba menjelaskan bahwa mereka merasa kasihan kepadanya sehingga mereka mendahului membersihkan sebelum kedatangan si nenek.

"Jika kalian kasihan kepada saya, berikan kesempatan kepada saya untuk membersihkannya! Biarkan saya yang akan membersihkan" pinta nenek tersebut.

Singkat cerita, akhirnya sang nenek dibiarkan mengumpulkan dan membersihkan dedaunan itu seperti biasanya.

Karena orang-orang pada penasaran dengan kelakuan nenek tersebut, maka salah seorang kyai diminta untuk menanyakan kepada si nenek tersebut mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.

Maka bertanyalah sang Kyai. Akan tetapi Perempuan tua itu hanya mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat :

Pertama : Hanya Kyai yang mendengarkan rahasianya.

Kedua : Rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

(Sekarang sang nenek telah meniggal dunia dan kita dapat mendengarkan rahasia tersebut)

Setelah sang Kyai berjanji, maka berkatalah si nenek :
"Saya ini perempuan bodoh, Pak Kyai." tuturnya.
"Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Yang saya tahu, saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat dan di akhirat tanpa mendapat syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya mengucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Memberi syafaat kepada saya. Biarlah semua dedaunan itu bersaksi bahwa saya telah membacakan shalawat kepadanya." tambah nenek tua tersebut.

Sang kyai hanya mampu tertegun mendengarkan cerita nenek tersebut. Seakan tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

Perempuan tua yang hanya dari sebuah kampung itu, tidak saja telah mengamalkan dan mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasulullah SAW dalam bentuknya yang tulus. Ia juga telah menunjukkan sifat kerendahan hati (tawadhdhu’) di hadapan manusia, dan tadharru’ (kerendahan diri ke Hadirat Tuhannya), serta pengakuan akan keterbatasan amal dihadapan Allah SWT.

Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, yang amat luhur.

Ia sadar bahwa dia tidak dapat hanya mengandalkan amalannya untuk dapat selamat di Akhirat kelak.
Dia sangat bergantung pada Rahmat Allah SWT.
Dan siapa lagi yang menjadi rahmat di semesta alam ini selain Rasulullah SAW?

Sehingga syafaat dari Rasulullah itulah yang sangat dia harapkan.

Subhanallah,
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad.

Kisah ini dituturkan oleh salah satu Kyai di Madura, Bapak D. Zawawi Imron (Dikenal juga sebagai Penyair yang banyak dekat dengan Ulama').

Sumber http://zilzaal.blogspot.com/2012/07/kisah-penuh-hikmah-nenek-si-pemungut.html

Orang saleh dan pria pemabuk

Cerita kisah Orang saleh dan pria pemabuk

Orang saleh dan pria pemabuk

Bismillah

Pada suatu ketika, nabi Musa akan menemui Allah di bukit Sinai. Seorang yang sangat saleh mengetahui hal tersebut dan mendatangi nabi Musa. Ia berkata, “Wahai nabi Allah, selama hidup ini saya telah berusaha menjadi orang yanga baik dengan shalat, puasa, haji dan kewajiban beragama lainnya. Saya banyak menderita karenanya, namun itu tak masalah. Saya hanya ingin tahu apa yang Allah akan berikan kepadaku nanti. Tolong tanyakan kepadaNya”
Nabi Musa menyanggupi permintaan salah satu orang saleh tersebut lalu meneruskan perjalanan menuju bukit Sinai. Di tengah perjalanan, beliau terhenti karena ada pemuda pemabuk di pinggir jalan. Pemuda itu bertanya akan kemana nabi Musa. Ketika nabi Musa menjawab akan bertemu Allah di bukit Sinai, pemabuk itu berkata:
“Aku adalah peminum, aku tidak pernah shalat, tidak puasa, atau amalan shaleh lainnya, tanyakan kepada Allah apa yang dipersiapkan untukku oleh-Nya nanti.”
Nabi Musa menyanggupi permintaan yang cukup aneh tersebut untuk menyampaikannya kepada Allah. Sekembalinya dari Sinai, ia menyampaikan jawaban Allah untuk orang saleh tersebut. Allah memberikan pahala besar dan hal yang indah-indah. Si orang saleh tersebut menanggapi biasa saja dan ia mengatakan bahwa ia telah menduga hal tersebut. Sedangkan ketika bertemu si pemabuk, nabi Musa menyampaikan bahwa pemuda itu akan diberikan tempat yang paling buruk. Ketika mendengar ucapan nabi Musa, pemabuk itu berdiri dan justru menari-nari dengan riang gembira.
Nabi Musa pun heran, kenapa pemabuk itu justru gembira, padahal ia dijanjikan tempat yang paling buruk. Beliau bertanya kepada pemabuk itu, ada apa gerangan hingga segembira itu.
“Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina-dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorang pun yang mengenalku,” jawab pemabuk itu dengan rasa bahagia yang terpancar di wajahnya.
Namun setelah beberapa waktu, nasib keduanya pun berubah, justru orang yang saleh berada di neraka dan si pemabuk berada di surga. Nabi Musa yang takjub bertanya kepada Allah, demikian jawaban Allah:
“Orang yang pertama dengan segala amal salehnya tidak layak memperoleh anugerah-Ku karena anugerah tidak dapat dibeli dengan amal saleh. Orang kedua itu membuatKu senang karena ia senang dengan apapun yang Aku berikan kepadanya. Senangnya karena pemberian-Ku menyebabkan Aku senang kepadanya”
Dari cerita diatas, ada beberap hal yang bisa kita pahami. Bukan berarti seorang yang tidak taat beribadah bisa masuk surga, sama sekali bukan itu. Namun sikap bersyukurlah yang disukai oleh Allah. Selain itu sikap berpuas diri dan menganggap diri pantas menerima anugrah dari Allah justru dapat menjerumuskan kita kepada api neraka karena sama saja memperjualbelikan amal ibadah kita dengan balasan dari Allah. Demikian dalam suatu cerita pasti terkandung hikmah bagi orang-orang yang mau berpikir. (iwan)

Sumber http://ceritaislami.net/

Wasiat Rasulullah yang paling berharga

Wasiat Rasulullah yang paling berharga


Wasiat Rasulullah yang paling berharga

 Bismillah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah seorang utusan Allah. Manusia yang mulia dan dimuliakan. Tidak henti-hentinya beliau berwasiat kepada umat manusia selama masih hidup di dunia ini. Kasih sayang beliau kepada umatnya tidak tertandingi oleh siapapun. Beliau bahkan menangis jika mengingat bahwa orang-orang yang kafir akan masuk neraka. Itu adalah bukti cinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya, bahkan yang kufur kepada Allah sekalipun, beliau mengasihi mereka. Khusus untuk umat Islam, Rasulullah meninggalkan banyak wasiat mengenai keimanan kepada Allah, salah satunya kami kutipkan dalam sebuah hadits berikut.
Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “
Satu hadits diatas mengandung tiga wasiat yang sangat penting dan berharga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan wasiat tersebut kepada kita supaya kita selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Wasiat ini meliputi bagaimana kita berhubungan dengan Allah, diri sendiri dan orang lain.
“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada”
Ini berarti bahwa kita haruslah berhubungan terus dengan Sang Maha Pencipta dengan diwujudkan dengan taqwa kepadanya. Menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Dalam keadaan apapun, dimanapun kita berada, kita tidak boleh menduakan Allah, bermaksiat kepada Allah bahkan ingkar kepada Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara jelas mengatakan hal tersebut dalam hadits ini.
“Iringilah keburukan dengan kebaikan nisacaya akan menghapusnya”
Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh memelihara dendam. Bagaimanapun sakitnya hati kita dianiaya oleh orang lain, kita tidak boleh memelihara dendam di dalam hati. Iblis pada akhirnya harus masuk neraka dikarenakan dendamnya kepada manusia. Maukah anda disamakan dengan Iblis? Tentu saja tidak. Maka dari itu ada baiknya jika kita mulai menghilangkan sifat dendam kepada siapapun. Contohlah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang memaafkan penduduk Makkah yang sebelumnya telah menghina beliau, atau bahkan penduduk Thaif yang telah menyakiti beliau secara fisik. Jika beliau mau, Allah pasti akan membalaskan sakit hati beliau dengan adzab. Namun beliau adalah pemaaf dan tidak pendendam. Kita sebagai umatnya harus berlaku sama seperti itu.
“Pergaulilah menusia dengan akhlak yang baik”
Sebagai manusia kita tentu saja kita tak lepas dari kesalahan dan dosa. Maka dari itu kita harus bisa memelihara akhlak yang baik tersebut dengan cara meminta maaf apabila salah. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan manusia lain, maka umat Islam harus mengedepankan akhlak yang mulia dalam hubungan bermasyarakat tersebut. Hal tersebut dijabarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits.
“Siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan masuk syurga maka hendaknya kematian menjemputkanya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan hari akhir dan hendaknya ia bergaul dengan orang lain sebagaimana ia ingin orang lain bergaul dengannya” HR Muslim
Demikian penjelasan tiga wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang indah ini. Semoga kita semua dapat menaatinya.

Sumber http://ceritaislami.net/wasiat-rasulullah-yang-paling-berharga/